Minggu, 04 September 2011

Urbanisasi Berdampak Positif dan Negatif



MENURUT Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Erman Suparno, pertumb u h a n   u r b a n i s a s i   h a r u s   d i s i a s a t i
dengan perbaikan fasilitas yang sesuai
d e n g a n   k e b u t u h a n  ma s y a r a k a t   p e r k o t a a n .
Dalam hal ini, Depnakertrans telah melakukan
pelatihan, sertivikasi dan penempatan tenaga
kerja atau lebih dikenal dengan program threein-one, Program Revitalisasi Balai Latihan Kerja,
Pembukaan Kesempatan Kerja Baru di Luar
Negeri dan Program Kota Mandiri (KTM) di
kawasan transmigrasi.
Paparan ini disampaikan Menakertrans saat
menjadi  keynot speech dalam Seminar Nasional
Pertumbuhan Penduduk Perkotaan di Gedung
Bidakara, Jakarta, beberapa waktu lalu yang
diikuti dengan peluncuran Buku State of World
Population Report 2007 yang merupakan kerja
sama antara Ikatan Peminat Ahli Demografi
(IPADI) dengan Lembaga PBB yang menangani
kependudukan (UNFPA) dan Depnakertrans.
Launching buku pada tanggal 27 Juni ini secara
serentak juga dilakukan seluruh dunia dalam
rangka mempe r ingat i  Har i  Kependudukan
Internasional pada 11 Juli 2007.
Laporan State of World Population 2007 ini juga
memberikan gambaran urbanisasi dunia, bahwa
pada tahun 2008, lebih dari separuh penduduk
dunia yaitu 3,3 milyar jiwa akan tinggal di daerah
urban. “Angka ini akan naik tajam menjadi 5
milyar pada tahun 2030,” kata Martha Santoso
Ismail, Representative United Nations Population Fund (UNFPA).
Diakui Martha, urbanisasi mempunyai
dampak positif dan negatif. Tidak ada negara
di era industrialisasi dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang berarti tanpa urbanisasi.
“Tantangannya adalah belajar bagaimana
memanfaatkan kemungkinan-kemung–
kinannya,” tukasnya.
Hal senada juga diungkap Ketua Umum
IPADI Rozi Munir bahwa pertambahan penduduk perkotaan telah menjadi bagian dalam globalisasi yang kehadirannya tidak
dapat disekat-sekat lagi. Oleh karena itu,
yang terpenting dalam menangani masalah
urbanisasi adalah bagaimana membuat kebijakan perkotaan agar dapat mengadaptasi
potensi-potensi menguntungkan bagi perkembangan perkotaan yang sebagian memang masih
miskin.
Tak kalah pentingnya, seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas
topik- topik menar ik,  dipandu ol eh Meut ia
Hafidh reporter dan presenter televisi news kondang. Narasumber tersebut adalah Dr Effendi
Gozali, pakar Komunikasi, Prof Dr Ahmad
Fedyani Saifudin, Dosen Antropologi Fakultas
Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, Dr
Omas Rajagukguk dari Lembaga Demografi
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Drs
Suwito, SH,MM Dirjen pengawasan Ketenagakerjaan.
Menurut Prof Ahmad Fedyani Saifudin, kemiskinan massif dan integrative di perkotaan
telah mengakibatkan muncul dan berkembangnya kemiskinan kebudayaan dalam berbagai
bentuk. Kemiskinan kebudayaan muncul akibat
pros e s  adaptas i   t e ru s  mene rus  masyarakat
perkotaan yang sebagian besar miskin terhadap
berbagai tekanan kehidupan.
“Pada masa kini dan mendatang, persoalan
kemiskinan sudah menjadi kemiskinan kebudayaan. Contohnya, hampir semua kegiatan politik,
baik yang terorganisir oleh partai-partai politik
maupun bukan, uang selalu menjadi sentral.
Bahkan hampir semua demo atau tuntutan
berbagai pihak ke alamat pemerintah berpusat
pada isu uang,” tukasnya.  RW

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar